banner 160x600
banner 160x600
banner 970x250

Durhaka! Tak Terima Dinasehati, Adek Pukuli Abang

  • Bagikan

 

LAMPUNG TIMUR | Sebagai seorang abang dan dituakan di tengah kelurga besar, sosok seorang abang dituntut perhatian dan kepeduliannya, khususnya bagi saudara yang perlu diperjuangkan penghidupannya. Kadangkala bagi sebagian saudara yang kedudukannya sebagai adik, nasehat maapun perhatian yang dicurahkan sang abang diartikan lain, cuman ngurusin hidupnya.

Di Lampung Timur, Provinsi Lampung, seorang adik dianggap durhaka. Apa gerangan? Sudirmanto Bin Suhardi, sebagai adik tidak terima atas nasehat yang disampaikan abangnya Subandi Bin Suhardi kepada dirinya, khususnya soal kehidupan dan masa depannya.

Kala itu, 10 September 2022 lalu, di Desa Mataram Baru Kecamatan Mataram Baru, Lampung Timur. Subandi dengan penuh kehangatan dan kekeluargaan menerima kunjungan saudaranya yang juga adik kandungnya Sudirmanto yang selama ini merantau dan tinggal di Jambi ke kediamannya dan bermaksud untuk tinggal beberapa hari kedepannya.

Bertempat di teras rumah, ditemani secangkir kopi, obrolan lepas rindu antara abang dan adik pun mengalir diantara keduanya, khususnya perkembangan penghidupan masing-masing kedua orang bersaudara ini. Senda gurau sesekali muncul dalam obrolan mereka. Subandi kala itu ditemani istrinya Eni Yulianti.

Nahas! Ketegangan obrolan mereka pun pecah! Bermula saat sang abang mulai memberikan nasehat kepada si adik, khususnya untuk memiliki pekerjaan tetap untuk penghidupan di masa mendatang. Abang tidak ingin adiknya hanya numpang tinggal di rumahnya, abang meminta adiknya mencari lowongan pekerjaan dan memperoleh penghasilan.

Perdebatan diantara obrolan mereka pun terjadi, keributan keduanya tidak terelak. Tersulut emosi, adiknya Sudirmanto seketika itu menghampiri abangnya dan berusaha dengan gerak cepat menghuyunkan tangannya ke wajah abangnya. Eni Yulianti istri Subandi dengan gerak refleks menghalangi, huyunan tamparan itu justru mengenai wajah Eni Yulianti.

Kaget istrinya mendapat tamparan di wajahnya, Subandi pun melakukan perlawanan dengan mendorongnya dan mencekik leher adiknya, sehingga Sudirmanto terjatuh. Di posisi terjatuh di lantai, Sudirmanto tetap melawan dan seketika itu dia melihat sebilah pisau yang tergeletak di salah satu kursi.

Memegang sebilah pisau, Sudirmanto pun menyerang abang dan kakak iparnya sembari menghuyunkan pisaunya. Huyunan pisau itu mengenai Subandi. Tusukan pisau mengenai punggung Subandi. Amarahnya yang tidak terbendung, Sudirmanto kesetanan tetap berusaha melukai pasangan suami istri ini.

Mengelak tidak ingin jadi korban keberingasan adiknya, Subandi dan istrinya berusaha menyelamatkan diri dengan berlari ke dalam rumah. Seketika itu mereka langsung mengunci pintu rumah. Dari dalam rumah, pasangan suami istrinya dihantui ketakutan dan berusaha minta tolong kepada tetangga rumah sambil berteriak minta tolong.

Jiwa mereka pun terselamatkan. Warga tetangga pun seketika itu berduyun-duyun mendatangi rumah Subandi. Sudirmanto langsung diamankan warga dan diserahkan kepada pihak berwajib. Aparat penegak hukum dari Polsek Mataram Baru, Lampung Timur langsung menetapkannya sebagai tersangka penganiayaan yang dipersangkakan melanggar Pasal 351 KUHP dan menjebloskannya ke dalam sel penjara.

Sesuai ketentuan perundang-undangan, proses hukum atas perkara ini pun dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Lampung Timur guna proses hukum lanjutan atas perkara tersebut. Kepala Seksi Pidana Umum Kejari Lampung Timur Budi Setia Mulya SH.MH bersama tim jaksa Pidum Rakhmad SH memproses, meneliti dan mempelajari perkara atas nama Sudirmanto untuk selanjutnya dilaporkan kepada Kepala Kejaksaan Negeri Lampung Timur Nurmajayani SH.MH.

Kepala Kejaksaan Negeri Lampung Timur Nurmajayani SH MH terenyuh mendapati berkas perkara Sudirmanto dari jajaran jaksa Pidum. Hati nurani Nurmajayani berbicara ketika mempelajari perkara penganiayaan ini. Dia lantas memerintahkan Kasi Pidum yang menangani perkara itu untuk memfasilitasi perdamaian terkait tindak pidana penganiayaan yang dilakukan Sudirmanto kepada Subandi yang juga abang kandungnya itu.

Niatan mulia perempuan berhijab ini sang inisiator perdamaian membuahkan hasil. Subandi dan istrinya selaku korban mau menerima permintaan maaf dari adiknya Sudirmanto. Pasangan suami istri ini dengan lapang dada dan tulus memaafkan adiknya itu. Mereka bersepakat damai dan membubuhkan tanda tangan diatas materai pernyataan perdamaian dengan disaksikan para saksi.

Kepala Kejaksaan Negeri Lampung Timur Nurmajayani lantas mengusulkan penghentian penuntutan atas perkara itu ke pimpinan Kejaksaan, melalui Kejati Lampung untuk diteruskan ke Jaksa Agung ST Burhanuddin.

“Senin 20 November, usulan penghentian penuntutan perkara ini akhirnya diterima dan disetujui Jaksa Agung Muda Pidana Umum DR Fadil Zumhana atas nama Jaksa Agung ST Burhanuddin. Beliau memerintahkan Kejari Lampung Timur untuk menerbitkan Surat Ketetapan Penghentian Penuntutan (SKP2) berdasarkan Restorative Justice,” kata Kajari Lampung Timur Nurmajayani melalui Kasi Pidum Budi Setia Mulya dan jaksa fasilitator Rakhmad kepada ADHYAKSAdigital, Selasa 21 November 2022.

Kejari Lampung Timur akhirnya menerbitkan SKP2 RJ atas perkara Sudirmanto. Nurmajayanti menyebutkan penerbitan Surat Ketetapan Penghentian Penuntutan (SKP2) Berdasarkan Keadilan Restoratif, sesuai Berdasarkan Peraturan Jaksa Agung Nomor 15 Tahun 2020 dan Surat Edaran JAM Pidum Nomor: 01/E/EJP/02/2022 tanggal 10 Februari 2022 tentang Pelaksanaan Penghentian Penuntutan Berdasarkan Keadilan Restoratif sebagai perwujudan kepastian hukum.(RED)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *